oleh: Sri Mulyani, S. Pd.I.

Malam itu daya baru saja selesai menunaikan ibadah salat Isya’ ketika tiba-tiba ponsel saya bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari salah satu murid perempuan kelas IX SMPN 1 Kedungtuban. Pesannya cukup singkat, namun sukses membuat saya terharu sekaligus bangga. Ini bukan tentang nilai angka yang bagus, bukan pula tentang prestasi akademik, melainkan tentang mekarnya jiwa religius untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Isi pesan tersebut berbunyi:
“Assalamualaikum Bu… Alhamdulillah hari ini saya berhasil menjalankan salat 5 waktu. Setelah merasa sekian lama meninggalkannya, akhirnya hari ini saya bisa melaksanakannya secara lengkap. Terima kasih Bu atas bimbingannya.”
Lebih dari sekadar pencapaian atau angka, pesan sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam: makna tentang refleksi diri dan kesungguhan usaha untuk menjadi pribadi yang taat beribadah.
Saya sempat berpikir sejenak. Apa yang membuat anak ini merasa begitu bahagia setelah menunaikan salat lima waktu? Apa yang sebenarnya menjadi motivasi dan tujuannya? Berbagai pertanyaan bergelung di kepala saya.
Sambil membalas pesannya, saya teringat bahwa kelas IX baru saja menyelesaikan matei Bab 2 tentang Iman kepada Hari Akhir, termasuk pembahasan mengenai tanda-tanda kiamat sugra (kecil) dan kiamat kubra (besar). Saat menyampaikan materi tersebut, saya menerapkan pembelajaran kontekstual, menghubungkan materi dengan fakta kehidupan sehari-hari tentang beberapa tanda-tanda kiamat sugra (kecil). Diantara tanda-tanda kiamat sugra adalah sebagai berikut :
Saya mengaitkan tanda ini dengan realita kehidupan yang terjadi saat ini: semakin jarang anak usia SMP yang belajar mengaji di masjid maupun mushala. Ketika saya menyampaikan hal ini, para siswa sejenak tersadar bahwa fenomena tersebut memang nyata terjadi di sekitar mereka.
Tanda kedua ini saya kaitkan dengan penggunaan media sosial yang sering kali menampilkan konten tanpa filter. Banyak wanita yang dengan sukarela mempertontonkan aurat demi like dan viewrs. Hal tersebut sangat memprihatinkan, sebagai sesama perempuan, kita seperti merelakan bagian tubuh yang seharusnya dijaga menjadi tontonan publik, naudzubillah.
Lalu saya mengajukan sebuah pertanyaan
“Untuk apa mengejar ribuan likes dan views jika harus mengorbankan martabat diri sendiri? Mendengar pertanyaan itu, mereka tertegun dan mulai merenung.
Tak hanya itu, saya juga menyinggung kebiasaan berpacaran di kalangan remaja. Saya bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian cari dari berpacaran? Bahagia? Cinta? Atau sekadar gaya? Coba renungkan, selama ini apa yang sebenarnya kalian dapatkan? Bukankah lebih banyak sakit hati, kegelisahan, dan penurunan semangat belajar?”
Beberapa murid perempuan terdiam, lalu menjawab pelan, “Iya, Bu.” Saya pun melanjutkan bahwa tidak ada yang layak kita cintai sedemikian hebat selain Allah SWT, Rasulullah SAW, diri sendiri, dan orang tua kita. Nabi Muhammad SAW adalah manusia kekasih Allah yang telah dijamin surga tertinggi (Al-Wasilah). Namun, beliau tetap menantikan umatnya, memberikan syafaat hingga umatnya dikeluarkan dari neraka. Itulah cinta yang hakiki. Meskipun tidak pernah bertemu langsung, Rasulullah tetap mengakui kita sebagai umatnya selama kita beramal saleh dan memperbanyak salawat.
Pada sesi akhir pembelajaran, saya menegaskan bahwa dunia ini hanyalah sementara dan kiamat pasti akan datang, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj ayat 7.
📖 QS. Al-Hajj/22: 7
وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِى ٱلْقُبُورِ ٧
Artinya:
“Dan sungguh, hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang ada di dalam kubur.”
Kandungan singkat:
Ayat ini menegaskan bahwa hari Kiamat pasti terjadi dan Allah Swt. akan membangkitkan seluruh manusia dari kuburnya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
Mari kita persiapkan diri di dunia yang singkat ini dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui salat, puasa, berbuat kebaikan, serta menjauhi segala larangan-Nya.
Ternyata, atas izin Allah SWT, penjelasan materi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata tersebut mampu mengetuk hati murid saya untuk memperbaiki diri.
Generasi yang religius dan berkarakter lahir dari kebiasaan-kebiasaan positif, dan pembelajaran kontekstual terbukti lebih mudah dipahami serta diresapi oleh para murid.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dan mendekatkan kita dalam kebaikan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤲
Jumat, 11 September 2026, tepatnya pukul .19.40 WIB.

Beri Komentar